Banjir Bangka Tengah, Alam Seakan Menagih, Aktivis Rosidi Soroti Perambatan Hutan hingga Pembiaran Kekuasaan

Sony

banner 468x60

GASH – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama ini dikenal kaya akan sumber daya alam, terutama timah, serta memiliki karakter tanah yang subur dan bersahabat bagi pertumbuhan tanaman.

Namun di balik kekayaan itu, alam kini seolah mulai “menagih” diduga akibat dari eksploitasi yang tak terkendali.

banner 336x280

Dalam beberapa hari terakhir, hujan deras yang mengguyur hampir merata di wilayah Kepulauan Bangka Belitung memicu bencana banjir di sejumlah titik di Kabupaten Bangka Tengah. Air meluap, merendam permukiman warga, hingga melumpuhkan aktivitas masyarakat, terutama pengguna ruas jalan utama.

Peristiwa ini dengan cepat menjadi sorotan publik setelah foto dan video kondisi banjir beredar luas di media sosial. Beberapa wilayah yang dilaporkan terdampak cukup parah antara lain daerah jembatan Desa Nibung, Desa Lubuk, serta kawasan sekitarnya di Bangka Tengah.

Tak sekadar bencana alam biasa, banjir ini memantik kritik keras dari Muhamad Rosidi, salah seorang aktivis asal Bangka Selatan. Ia menilai banjir yang terjadi patut dicurigai bukan sekadar fenomena tahunan, melainkan akibat dari kerusakan lingkungan yang dibiarkan berlangsung lama.

“Jangan sampai kejadian seperti di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh terulang di Bangka Belitung. Hari ini faktanya, banjir terjadi di Bangka Tengah. Dugaan saya, ini bukan banjir biasa, tetapi dampak dari penambangan liar yang menghantam kawasan hutan produksi, hutan lindung, penambangan pasir, hingga alih fungsi lahan untuk sawit,” tegas Rosidi kepada wartawan, Jumat (9/1/2025).

Rosidi bahkan mengungkapkan bahwa dirinya telah menempuh jalur hukum dengan melaporkan Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, ke Kapolda dan Mabes Polri. Laporan tersebut terkait dugaan pembiaran aktivitas pertambangan di kawasan hutan Lubuk.

“Saya sudah melaporkan Bupati Bangka Tengah karena dugaan pembiaran pertambangan di hutan Lubuk. Ini bukan persoalan sepele, karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

Di tengah genangan air dan lumpur, pertanyaan besar pun mengemuka apakah ini semata kehendak alam, atau akibat dari keserakahan yang terus dibiarkan?

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed