Beberapa Pantun Menarik Versi GASH: Lahir di Bulan Gelep, Ngarau di Bulan Terang — Pantun Melayu yang Kian Terpinggir di Toboali

Sony

banner 468x60

GASH – Pantun, salah satu warisan sastra lisan Melayu yang kaya nilai estetika dan filosofi, kini mulai terlupakan di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Padahal, pantun dulunya merupakan medium utama penyampaian pesan, nasihat, bahkan cinta dengan cara yang halus dan puitis.

Disusun dalam bait-bait berirama, pantun menyentuh berbagai tema mulai dari kehidupan sehari-hari, alam, hingga nilai-nilai budaya. Sayangnya, di tengah arus modernisasi dan derasnya penggunaan media sosial, pantun mulai tergeser dari ruang pergaulan generasi muda Toboali.

banner 336x280

“Pantun itu dulunya seperti bahasa sehari-hari. Mau nasihat, mau sindiran halus, semua disampaikan lewat pantun. Sekarang, jarang anak muda bisa buat pantun lagi,” ujar Bang Yoelch, salah satu tokoh pemuda Toboali.

Gashnews mencoba menelusuri kembali denyut kehidupan pantun di masyarakat Bangka Selatan, dan berhasil menghimpun beberapa karya pantun yang masih hidup di tengah sebagian masyarakat.

Salah satu pantun yang menarik perhatian ialah karya Bang Yoelch, berjudul “Lahir di Bulan Gelep, Ngarau di Bulan Terang”, yang menjadi simbol perjalanan dan harapan dalam balutan bahasa Melayu lokal:

Bulan terang nikem Parik…
Parik di tikem mutik kerang…
Biar lah urang ngate dirik…
Asak dirik jangan ngate urang…

Mate tebelalak pakai telindak…
Telindak di pakai nutup panas…
Cinta di tolak dukun bertindak…
Bertindak pakai si jambul nanas…

Muik kideng Isik sikat…
Lumpat di hawa temeresau…
Hedeng hedeng idup bemasyarakat…
Men dak Kawa ngitung kasau…

Kaki bekarat ules Ken halep…
Jangan aben temaken Ken kerang…
Ibarat lahir di bulan gelep…
Nye ge ngarau men bulan terang….

Bang Yoelch menjelaskan bahwa pantun ini menggambarkan kehidupan yang naik turun, di mana seseorang lahir dalam kesulitan (“bulan gelep”), namun berjuang menuju masa depan yang cerah (“bulan terang”). Ungkapan lokal yang digunakan menambah kekayaan rasa dan identitas budaya daerah.

Tak hanya Bang Yoelch, Mang Darmin, tokoh tua di Toboali, juga masih menyimpan banyak pantun dari masa lalu. Salah satu pantun darinya menggambarkan realitas kehidupan nelayan secara satir namun penuh makna:

Darmin: Kate buyan bulan terang keletat pute…Anak buah dak pacak kelaut, cuma minjem duit bae gawe…

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *