GASH – Guyuran hujan membasahi aspal, menyapu debu yang lama melekat. Jalanan yang tadinya kelabu kembali bersih, seolah memperlihatkan wajah barunya yang segar. Seakan mengisyaratkan bahwa teriknya kemarau setahun dapat sirna hanya dengan sehari oleh hujan.
Hujan tidak hanya menyejukkan bumi, tetapi juga menghadirkan pesan kehidupan. Bahwa apa yang lama menumpuk entah itu debu, kotoran, atau bahkan luka, pada akhirnya bisa hilang seketika oleh satu peristiwa yang datang tiba-tiba.
Begitu pula dalam kehidupan manusia. Sering kali kita berusaha menanam kebaikan, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu. Namun, terkadang hanya satu kesalahan, satu kata yang tergelincir, atau satu tindakan yang keliru, dapat membuat orang lain melupakan seluruh kebaikan yang telah kita lakukan sebelumnya.
Itulah rapuhnya persepsi. Kita hidup dalam ruang sosial yang penuh dengan penilaian. Tak jarang, orang lebih mudah mengingat keburukan daripada kebaikan.
Jejak salah langkah terasa lebih kuat daripada tapak panjang perjuangan yang baik. Yang tertinggal hanyalah ruang hampa sebuah luka, sebuah jejak yang tak lagi ingin dikenang, meskipun sejatinya kita tak pernah sepenuhnya berniat buruk.
Namun, apakah itu berarti semua kebaikan menjadi sia-sia? Tidak. Justru di situlah tantangan terbesar kehidupan. Bahwa kita tidak berbuat baik untuk sekadar dikenang, melainkan untuk menjaga nilai kemanusiaan dalam diri kita sendiri. Kebaikan adalah cermin jiwa, bukan sekadar catatan di mata manusia.
Maka meski dunia sering kali tak adil dalam menilai, tetaplah tegar. Jangan pernah ragu untuk melangkah. Lakukan yang terbaik di setiap hembusan nafas yang tersisa. Sebab hidup bukan tentang bagaimana kita dikenang oleh orang lain, tetapi tentang bagaimana kita berdamai dengan hati nurani sendiri.
Pada akhirnya, kejahatan, seberapa besar pun, tak akan pernah abadi. Waktu akan mengikisnya, sebagaimana hujan menghapus debu di jalanan.
Kebaikan mungkin tersisih sesaat, namun ia tak pernah benar-benar kalah. Ia akan selalu menemukan jalannya, tumbuh dalam senyap, dan pada waktunya akan mengalahkan segala bentuk kejahatan.
Karena itu, jangan biarkan satu kesalahan membuat kita berhenti berbuat baik. Sama seperti bumi yang selalu menanti hujan, jiwa manusia pun selalu merindukan kesejukan kebaikan.(Sony)








