Pantun Habang versi GASH kembali hadir sederhana, jenaka, namun bermakna. Sebuah pengingat bahwa budaya tak perlu megah, cukup dijaga, diucap, dan dibagikan.
Setelah cukup lama tak terdengar, Pantun Habang versi GASH karya Sastrawan Yoelch Hadir kembali bergema. Bukan sekadar rangkai kata, pantun ini hadir sebagai ruang belajar, berbagi, sekaligus melestarikan adat dan budaya Melayu urang Habang Bangka Selatan yang kian hari kian tergerus zaman.
Pantun tak hanya jadi hiburan, tapi juga media silaturahmi dan transfer nilai, dari yang muda hingga yang sepuh, dari yang sekadar mendengar hingga yang berani berpantun.
Selain itu, Pantun Habang hadir tanpa beban, tanpa sekat. Semua boleh belajar, semua boleh mencoba, karena budaya hidup justru saat dirawat bersama.
Batang kuini tumbo hejajar,
Batang kemutun diadep liper,
Datang kehini kite belajar,
Belajar pantun hare ngamper.
Rebus kentang lalap petai,
Petai diader untuk tamu,
Kite datang bekelakar santai,
Santai hare bebagi ilmu.
Tebas belukar batang kemutun,
Kemutun tumboh di Aek Raya,
Bebas kite nulis pantun,
Pantun lestari adat budaya.
Kain katun jato kelantai,
Lantai dihapu pulang begawe,
Belajar pantun hare santai,
Hare nyapai kutak kue.
Bukan kentang sembarang kentang,
Kentang dibungkus kain katun,
Bukan datang sembarang datang,
Kite datang belajar pantun.
Sebagai pantun penutup yang mengundang senyum sekaligus tawa Khas melayu Habang:
Barong nerpak batang mengkudu,
Kaki hakit Luke tekangak,
Rambut gundrong mulai rudu,
Hiket agik jadi bengak.
Editor: Sony







