Nasib Buruh di Bangka Belitung, Matoridi Desak Aksi Nyata BPJS Ketenagakerjaan

Sony

banner 468x60

GASH – Momentum Hari Buruh Internasional di Bangka Belitung(BABEL), khususnya Bangka Selatan(Basel), kembali menggugah suara keras dari tokoh masyarakat Matoridi. Ia menyoroti realitas pahit yang selama ini luput dari perhatian, nasib buruh tambang rakyat yang bekerja tanpa perlindungan, tanpa kepastian, dan nyaris tanpa kehadiran negara.

Menurut Matoridi, mayoritas buruh di negeri Serumpun Sebalai dan Junjung Besaoh bertumpu pada sektor pertambangan dan perkebunan. Namun ironisnya, sebagian besar dari mereka berada dalam kondisi ilegal, tidak terdata, dan bekerja secara situasional. Mereka bukan hanya rentan secara ekonomi, tetapi juga hidup di bawah bayang-bayang maut setiap hari.

banner 336x280

“Pertanyaannya sederhana, bagaimana nasib mereka? Hampir semuanya tidak memiliki jaminan. Ketika kecelakaan terjadi, yang tersisa hanya duka bagi keluarga,” tegasnya. Jum’at 1 mei 2026

Fakta di lapangan menunjukkan, kecelakaan tambang timah baik di darat maupun di laut terus berulang dari tahun ke tahun. Banyak yang terekspos di media, namun tidak sedikit pula yang hilang tanpa catatan resmi. Lebih tragis lagi, para buruh ini bekerja tanpa perlindungan asuransi jiwa maupun jaminan keselamatan kerja.

Matoridi menilai, kondisi ini adalah cermin abainya negara dalam menjamin hak dasar warga negara untuk hidup dan bekerja dengan aman. Ia menegaskan bahwa legal atau ilegal bukan alasan untuk menutup mata terhadap keselamatan manusia.

“Negara harus hadir. Jangan hanya bicara aturan, tapi abai pada nyawa. Mereka bekerja untuk makan, untuk keluarga. Itu hak hidup yang wajib dilindungi,” ujarnya tajam.

Ia mendesak adanya langkah konkret, bukan sekadar wacana. Salah satunya adalah percepatan dan perluasan program perlindungan tenaga kerja melalui BPJS Ketenagakerjaan yang harus dijalankan secara masif di seluruh wilayah Bangka Belitung, termasuk menyasar para buruh tambang rakyat yang selama ini terpinggirkan dari kebijakan.

Momentum Hari Buruh, kata Matoridi, seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi titik balik keberpihakan nyata terhadap para pekerja paling rentan.

“Jangan tunggu korban berikutnya. Jika negara terus lambat, maka setiap lubang tambang bisa menjadi liang kubur bagi buruh kita sendiri,” tutupnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *