Pesan Moral dalam 7 Pantun Malam Mingguan GASH: Jaga Lisan, Hati, dan Hindari Dengki

Sonic

banner 468x60

GASH – Di tengah arus digitalisasi dan derasnya modernisasi, denyut budaya lisan masih terasa hidup di sudut-sudut negeri. Salah satunya di wilayah Habang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

GASH kembali menelusuri kehidupan masyarakat Habang dan berhasil menghimpun sejumlah pantun malam mingguan karya Bang Yoelch – seorang pelantun sekaligus pelestari budaya lokal yang konsisten berkarya dalam bentuk pantun.

banner 336x280

Pantun-pantun karya Bang Yoelch tak hanya menghadirkan hiburan di malam Minggu, namun juga menyimpan pesan moral, sosial, dan kebijaksanaan hidup yang disampaikan dengan gaya bahasa khas Bangka Belitung, khususnya Habang. Dalam gempuran era digital, gaya tutur seperti ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal tetap bernapas dan pantas dijaga.

Berikut 7 pantun malam mingguan versi GASH karya Bang Yoelch:

Beras kunyet ambur ke tana,
Dipatok ayam dak besise.
Temerinyet hare menghina,
Kelak haro tiduk badan gemuse.

Isik kideng ken ulu parang,
Digantung dalem uma.
Hedeng-hedeng ngate urang,
Kelak ade ukum karma.

Ibarat keneng nue libak,
Tambah pulik hungot cerudik.
Idup dak teneng gelem meabak abak,
Akibat gelem iri ken peradik.

Daun ketakung daun ketuyot,
Dihalai api areng.
Men disusui agik beruyot,
Tapi ketingken taipau begereng.

Kisoh lame jangan dikeneng,
Dak kawa umah tangga behangker.
Jangan susah ken urang heneng,
Hebab rejeki lah ditaker.

Tiap ari begawe di ume,
Badan lete keluar pelo.
Di dunio dak ken lame,
Alung kite ngumpel pahalo.

Muke ngerseng rupe ngeden,
Duduk mencangkung di atas kasau.
Lah rutui hekaban heperinden,
Nerabas utan temeresau.

Pantun-pantun ini menjadi semacam refleksi atas kehidupan, sosial, hingga spiritualitas masyarakat Habang. Meski berbalut bahasa daerah, maknanya tetap relevan dan menyentuh tentang karma, iri hati, perjuangan hidup, hingga pesan untuk menjaga lisan.

Karya-karya seperti ini menegaskan bahwa tradisi lisan belum mati. Selama masih ada yang mau menulis dan melantunkannya seperti Bang Yoelch, maka budaya pun tetap hidup.

Karya: Yoelch

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed