Harga Sawit Anjlok di Bangka Selatan, Petani Terpaksa Pasrah Jual Murah Karena Tak Paham Sistem Dagang

Sony

banner 468x60

GASH – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat pengepul lokal Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), memicu kegelisahan di kalangan petani sawit rakyat. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.930 per kilogram, kini disebut merosot tajam hingga menyentuh angka Rp1.650 per kilogram di wilayah Kecamatan Toboali, Minggu (24/5/2026).

Kondisi tersebut membuat para petani terpukul sementara harga pupuk kian tak terjangkau. Salah satunya dirasakan Matoridi, tokoh masyarakat Bangka Selatan sekaligus petani sawit rakyat, yang mengaku terkejut usai menjual hasil panennya kepada salah satu pengepul sawit di Basel.

banner 336x280

Dengan nada kecewa, Matoridi menilai penurunan harga yang terjadi secara drastis telah melukai marwah petani sawit rakyat di daerah.

“Ibarat kita mau pindah rumah, rumah baru belum jelas, tapi rumah lama sudah dirobohkan. Sistem tata kelola baru belum jelas, sementara sistem lama sudah dihancurkan,” ujar Matoridi.

Menurutnya, petani dibuat heran karena ketika harga sawit naik, kenaikannya berlangsung perlahan hanya Rp50 hingga Rp100 per kilogram. Namun saat turun, harga langsung anjlok dalam waktu singkat hingga hampir 50 persen dari harga sebelumnya.

Ia juga menyinggung pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait wacana tata kelola ekspor sawit satu pintu melalui Danantara atau BUMN. Matoridi mempertanyakan sejauh mana jaminan sistem baru tersebut mampu melindungi nasib petani sawit rakyat di daerah.

“Harga dunia masih stabil tinggi, tapi kenapa di tingkat lokal bisa jatuh sedalam ini? Petani tentu bertanya-tanya, apakah ada jaminan sistem baru ini benar-benar aman dan tidak merugikan rakyat kecil?” katanya.

Matoridi turut menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap potensi persoalan tata kelola di sektor BUMN, di tengah berbagai isu dugaan korupsi yang ramai diperbincangkan publik.

Menurutnya, sawit saat ini telah menjadi sektor andalan masyarakat desa karena dinilai lebih menjanjikan dibanding komoditas lain seperti karet. Banyak petani di Bangka Belitung mulai beralih ke sawit demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

“Kami masyarakat desa tidak paham politik global, perang dagang, atau geopolitik dunia. Kami hanya ingin harga sawit stabil, BBM terjangkau, kebutuhan pokok aman, dan pendidikan anak-anak kami tetap berjalan,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah pusat benar-benar mempertimbangkan dampak kebijakan hingga ke level ekonomi mikro di desa-desa terpencil sebelum mengambil langkah strategis terkait tata kelola sawit nasional.

“Jangan hanya melihat dari kacamata elit pusat. Dengarkan juga suara petani kecil di kampung-kampung. Kebijakan besar jangan sampai menghancurkan ekonomi rakyat di bawah,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Matoridi berharap keresahan para petani sawit rakyat dapat sampai kepada Presiden RI agar menjadi perhatian serius demi menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil secara berkeadilan.

“Semoga ini menjadi renungan bersama dan didengar oleh Bapak Presiden, agar kebijakan yang lahir benar-benar berpihak kepada rakyat kecil,” pungkasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed