GASH – Hallo sahabat GASH! Sudah lama ya kita tidak menghangatkan hari libur dengan pantun khas GASH yang biasanya menjadi teman santai kalian. Mungkin sebagian bertanya-tanya, “Kok Gashnews tidak berpantun lagi?” Nah, edisi kali ini justru lebih serih, lebih lembut tapi tetap mengena.
Sebab pantun kali ini memadukan bahasa daerah Melayu Habang dengan Bahasa nasional kita Indonesia, karya dari sastrawan lokal kita, Bang Yoelch, yang selalu berhasil meramu kata menjadi pesan penuh makna.
Sepertinya, Pantun edisi spesial ini mengulas hiruk pikuk dinamika politik Bangka Belitung yang belakangan ini semakin riuh.
Namun sahabat GASH, di tengah segala dinamika itu, jangan lupa bahwa Babel dikenal dengan sikap ramah, cinta damai, dan murah senyum. Perselisihan boleh saja muncul, tapi jalan kedamaian selalu lebih berfaedah untuk kita semua.
Baik, tak perlu berlama-lama, mari kita nikmati pantun edisi GASH hari ini halus tapi menampar, lembut tapi menyentuh, seperti gaya Melayu Habang yang penuh keanggunan.
Pucuk Mayang terus bergoyang, Sebab angin tak kunjung hilang, Kalau lah ada yang jadi wayang, Tentu lah pasti ada sang dalang.
Beda orang beda prinsip, Masing-masing punya argumen, Simpang siur menjadi gosip, Melontar kata dengan temperamen.
Bangka Belitung serumpun sebalai, Rumpun Melayu beragam budaya, Tindakan dan kata selalu dinilai, Sungguhlah insan tiada daya.
Insan sebagai hamba yang lemah, Terpancing emosi hilanglah akal, Insya Allah akan menuai hikmah, Jika hamba selalu bertawakal.
Hari Jumat mancing ke Pulau Lepar, Perahu bertambat depan pelabuhan, Setiap saat lafazkan istighfar, Untuk meredam kemarahan.
Kain lampin asai dekat kompor, Asai lampin dengan diikat, Petinggi negeri yang berlapor-lapor, Berdampak kepada semua masyarakat.
Masam-masam si buah cermai, Sama masam si buah raman, Mari semua ciptakan damai, Babel tenteram jadi idaman.
Hilang sudah akal yang sehat, Tanpa berpikir secara rasional, Siapa yang akan jadi penasihat, Jangan mengedepankan emosional.
Jika anda hendak nyeberang, Coba dilihat rambu-rambu, Jika menang jadi arang, Jika kalah jadilah abu.
Nah itu tadi sahabat GASH asyik kan? Oh ya sahabat GASH, Pantun bukan sekadar untaian kata, tetapi cermin hati.
Semoga melalui rangkaian pantun ini, kita semua bisa kembali mengingat bahwa dinamika politik hanyalah bagian dari siklus hidup, sementara kerukunan dan kedamaian adalah warisan abadi bagi generasi Bangka Belitung. Sampai ketemu di edisi pantun GASH berikutnya, sahabat GASH! We love forever.










