Gash – Masih terngiang di telinga sebuah kisah di Habang, Toboali, istri mang Dika kata-kata yang di lontar kan seseorang tempo hari saat mang Dika berselisih faham tentang batas lahan kebun.
Mereka dengan seseorang yang telah mencaplok lahan kebun milik mang Dika yang waktu itu masih berupa hutan kecil kebutalan berbatasan dengan kebun yang belum sempat di garap oleh mang Dika
“Kelak Ka ngitung kasau hebile ku dak Kawa agik” ngitung kasau sendiri jika diartikan (menghitung kasau) tepatnya kasau atap rumah. Nah Kata kata itu lah yang selalu terngiang di telinga istri mang Dika semenjak suami tercinta yang saat ini sudah memasuki hari ke 19 hanya bisa terbaring di kasur dalam sebuah kamar dengan mata hanya bisa menatap keatas kasau rumah yang belum di plafon itu.
Sudah berulang kali mang Dika di bawa ke rumah sakit untuk berobat secara medis. Namun anehnya sewaktu di vonis tidak ditemukan penyakit bersemayam dalam tubuh mang Dika.
Dan anehnya lagi seketika dilakukan pengecekan darah pun tidak ada penyakit yang terdeteksi secara medis.
Dengan segala usaha dan berbagai upaya padanmalam itu istri mang Dika meminta pertolongan ke seorang dukun kampung untuk datang kerumah melihat keadaan suami nya yang kian hari kian memburuk bahkan badan nya terlihat semakin kurus dengan perut membesar dan warna kulit perlahan menghitam.
Setelah melakukan ritual secara kebatinan, sang dukun kampung dengan suara berat dan keringat yang membasahi disekujur tubuhnya itu mulai membuka suara di hadapan istri mang Dika
Apa pun yang di lontarkan sang dukun persis dengan apa yang di alami mang Dika saat ini dan sebelum mang Dika sakit, Istri mang Dika pun menyadari apa yang telah terjadi adalah diduga sebab akibat dari perselisihan mang Dika dengan seseorang yang telah mencaplok lahan kebun milik mereka.
Malam itu mang Dika di beri segelas air jampi dari sang dukun dan di Asapi dengan kemenyan yang di taburi di sebuah wadah berisi bara api yang telah di siapkan sang dukun serta di titip kan 3 butir jeruk nipis yang telah di jampi mantra agar di mandi kan pertengahan malam nanti.
“Mudah mudahan Allah SWT mengizinkan usaha kita,” ucap sang dukun
Di akhir pembicaraan nya malam itu yang sebelum nya sang dukun mencicipi Asam garam yang telah di siapkan istri mang Dika pada sebuah piring kecil sebagai syarat setelah melakukan ritual pengobatan harus mencicipi Asam garam agar penyakit yang di obati tidak kembali kepada yang mengobati.
Malam telah berlalu dan pagipun kembali namun hari itu tidak seperti biasa nya saat mang Dika masih di pembaringan
Ibarat kata, Bagaikan kunyit dan kapur sirih keadaan mang Dika berangsur normal dan mang Dika pagi itu langsung meminta di buatkan kopi dan tumpik gandum untuk sarapan.
Terlihat senyum sumringah di wajah sang istri mengisyaratkan kebahagiaan tiada Tara sebab, Mang Dika sudah berangsur pulih dari sakit nya.
Sang istri berkata,”Sudah lah bang yang utama kita tetap bersyukur kepada yang maha kuasa atas izin nya yang di lantar Kan oleh dukun kampung keadaan Abang sekarang berangsur pulih setelah di obati malam tadi Semua kita serah kan kepada sang pemilik jiwa,” Kata sang istri
Mengenai perihal lahan biarkan saja Jangan di perdebatkan lagi lebih baik mengalah, Sebab lahan kebun tak bakalan di bawa mati,” Lanjut istri mang Dika
Seperti kisah di atas ternyata masih terjadi dari dulu hingga sekarang di wilayah Toboali yang memang banyak menyimpan misteri untuk hal – hal ghaib sehingga bisa membuat seseorang sakit bahkan meninggal dunia hanya karena berselisih faham.
Untuk mempertahankan hak terkadang kita harus mempertaruh Kan nyawa namun semua kita kembali Kan kepada Allah SWT sebagai penentu segala sesuatu.
Sumber penulis: Yoelch
Editor: Sonic Djokers













