Sepiring Rindu dari Dapur Nenek, Hambel Tegem Penyambung Hidup Mengejar Impian

Sony

banner 468x60

GASH – Dulu, ada seorang anak kecil yang tumbuh bersama neneknya. Sejak usia dini, ia belajar tentang hidup bukan dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan yang penuh makna. Setiap hari berangkat sekolah, ia membawa harapan besar dalam dadanya impian yang perlahan dirajut dari langkah kecil dan doa yang diam-diam selalu dipanjatkan.

Sepulang dari sekolah, satu hal yang selalu ia nantikan adalah apa yang tersaji di meja makan. Dengan langkah ringan dan perut yang mulai lapar, ia membuka tudung saji dengan rasa penasaran. Namun sering kali, yang ia temukan adalah sepiring nasi putih hangat dengan lauk “Hambel Tegem”.

banner 336x280

Mungkin terdengar biasa, bahkan membosankan bagi sebagian orang. Tapi tidak baginya. Justru dari hidangan sederhana itulah ia belajar arti syukur. Rasa nikmatnya bukan hanya dari sambal atau lauknya, tetapi dari kasih sayang yang terselip di setiap dari tangan nenek yang tak pernah lelah memberi.

Hari-hari itu kini telah berlalu, namun kenangannya tetap hidup. Sepiring nasi putih dan Hambel Tegem bukan lagi sekadar makanan, melainkan jejak cinta, pelajaran hidup, dan sejarah kecil yang akan selalu dirindu.

Kini, Hambal Tegam atau sambal tegam bukan lagi sekadar sambal biasa. Di hampir setiap rumah di Kota Toboali, hidangan ini kerap hadir sebagai menu favorit yang selalu dinantikan di setiap santapan.

Di tengah gempuran ragam kuliner modern, Hambel Tegem satu cita rasa tradisional dari Habang Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, justru tetap bertahan dan tak kehilangan penggemar para penikmat di lidah.

Hambal Tegem berbahan dasar udang sungkur yang telah melalui proses fermentasi hingga menjadi terasi, atau dalam bahasa lokal disebut belacan.

Aroma khasnya yang tajam justru menjadi daya tarik utama, menghadirkan sensasi rasa yang kuat dan menggugah selera.

Menariknya, proses pengolahan sambal ini tergolong simpel dan tidak ribet. Terasi yang digunakan kadang dibakar terlebih dahulu untuk memperkaya aroma, namun ada juga yang langsung diolah tanpa dibakar, tergantung selera. Ditambah dengan bumbu semacam cabai rawit, ditambahkan sedikit gula terus di ulek-ulek sampai menyatu.

Meski sederhana, racikan ini mampu menghasilkan cita rasa yang khas gurih, pedas, dan nendang di lidah.

Di kalangan masyarakat Toboali, Hambal Tegem bukan sekadar pelengkap makan, tapi sudah menjadi identitas rasa lokal. Disandingkan dengan nasi hangat dan lauk sederhana, sambal ini mampu mengangkat selera makan dijamin porsi nasi bertambah.

Tak berlebihan jika Hambal Tegem disebut sebagai salah satu kekayaan kuliner Toboali Bangka Selatan yang patut dibanggakan.

Begitulah sedikit ulasan tentang Hambel Tegem, lebih dan kurang nya dapat disesuaikan atau diberikan masukan kepada redaksi.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *